Kami
tau itu dari Tia. Saat aku sedang membaca surat dari teman Bunga tadi, Tia
sempat melihat koran yang berisi tentang “Villa Nusa”. Di ceritakan di berita
tersebut bahwa, sebelum kejadian Bunga tersebut ada lagi kejadian yang lebih
mengerikan lagi. Kejadian itu adalah,…
“Seorang
anak perempuan yang dibunuh secara sadis sekali..” jelas Tia. Kami semua
terkejut.
“Memangnya
bagaimana dia bisa terbunuh? Jelaskan lebih detail lagi dong Tia..”sahutku
memelas. Tia hanya mengangguk dan menjelaskan kepada kami semua.
“Sebelumnya
kita duduk di bawah pohon itu aja yuk, biar lebih adem!” ajak Tia. Kami mengangguk.
Pohon itu lumayan dekat dengan rumah berhantu itu, tapi tak apalah. Kami sudah
terlanjur cape untuk berjalan lagi.
“Jadi,
anak perempuan itu namanya Jessy” Tia memulai menjelaskannnya kepada kami, “… lebih tepatnya sih yaa, dia itu bukan anak perempuan
tapi udah remaja umur 19 tahun gitu lah yang aku baca..”ucapnya sambil melihat
kami satu persatu, “ … jadi, Jessy ini punya pacar yang namanya Ryan, aku akui
ya Ryan ini emang ganteng banget..”ucap Tia.
“Lah..lah
kok kakak bisa tau sih?”tanya Tina.
“Di
Koran itu ada fotonya, sampai sekarang katanya dia belum ketangkep sama polisi,
udah gitu katanya dia tinggal di daerah deket sini juga..”jawab Tia. Kami semua
tercengang. Ya ampun, kira-kira dimana ya
rumahnya? Batinku dalam hati.
“Udah
deh, lanjut terus ya ceritanya..” sanggah Tia tiba-tiba. Kami hanya mengangguk.
“…si Jessy ini sayang banget sama si Ryan . Jadi, apapun yang diminta sama Ryan
itu pokoknya di turutin semua. “Sepertinya anak yang bernama Ryan ini
memanfaatkan harta kekayaan Jessy”kayak gitu di bilang di Koran” jelas Tia
sambil menarik nafas kemudian menghembuskannya kembali.
“Ya
ampun, kok tega banget ya si Ryan-Ryan itu..”sahut Fafa. Tia hanya menggeleng
sambil mengangkat bahu.
“Udah..udah
lanjutin lagi ceritanya..!”sahutku penasaran dengan apa yang terjadi.
“Well,
pada suatu hari, si Ryan ini ngajak Jessy ke villa a.k.a rumah hantu yang kita
pergi itu, terus dengan mudahnya Jessy menyetujui ajakan Ryan. Ryan seperti
merencanakan sesuatu yang jahat gitu..”
“Emangnya
apa rencananya kak?” tanya Tina. Tiba-tiba, Tia seperti melihat kearah lain,
maksudnya tatapan dia itu ngeliatnya bukan kearah kami tapi Tia seperti melihat
ke samping tubuh Fafa.
Kami
bertiga, aku, Tina, dan Fafa berhadapan dengan Tia. Sementara Tia duduk sendiri
di depan kami.
“Kak..?
Ada apa kak?”tanya Tina gemetaran.
“It..it..itu..itu
RYANN..!!!”Tia sudah ketakutan sendiri dan segera berlari menjauh. Apa benar
yang diucapkan Tia? Kayaknya gak mungkin deh ada Ryan disini, aku mencoba untuk
berbalik ke belakang.
Tangan
Tina sudah berkeringat, aku bisa merasakannya karena dia memegang tanganku. Dan
aku yakin, tangan Fafa berkeringat juga. Aku sudah mengambil ancang-ancang
untuk melihat ke belakang, dan..
Satuuu………
Duaaa……
Tigaaaa……
Aku
melihat kebelakang dannn……..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar