Sabtu, 13 Juli 2013

Misteri Rumah Hantu Part 2


Kami tau itu dari Tia. Saat aku sedang membaca surat dari teman Bunga tadi, Tia sempat melihat koran yang berisi tentang “Villa Nusa”. Di ceritakan di berita tersebut bahwa, sebelum kejadian Bunga tersebut ada lagi kejadian yang lebih mengerikan lagi. Kejadian itu adalah,…





“Seorang anak perempuan yang dibunuh secara sadis sekali..” jelas Tia. Kami semua terkejut.
“Memangnya bagaimana dia bisa terbunuh? Jelaskan lebih detail lagi dong Tia..”sahutku memelas. Tia hanya mengangguk dan menjelaskan kepada kami semua.
“Sebelumnya kita duduk di bawah pohon itu aja yuk, biar lebih adem!” ajak Tia. Kami mengangguk. Pohon itu lumayan dekat dengan rumah berhantu itu, tapi tak apalah. Kami sudah terlanjur cape untuk berjalan lagi.
“Jadi, anak perempuan itu namanya Jessy” Tia memulai menjelaskannnya kepada kami,  “… lebih tepatnya sih yaa, dia itu bukan anak perempuan tapi udah remaja umur 19 tahun gitu lah yang aku baca..”ucapnya sambil melihat kami satu persatu, “ … jadi, Jessy ini punya pacar yang namanya Ryan, aku akui ya Ryan ini emang ganteng banget..”ucap Tia.
“Lah..lah kok kakak bisa tau sih?”tanya Tina.
“Di Koran itu ada fotonya, sampai sekarang katanya dia belum ketangkep sama polisi, udah gitu katanya dia tinggal di daerah deket sini juga..”jawab Tia. Kami semua tercengang. Ya ampun, kira-kira dimana ya rumahnya? Batinku dalam hati.
“Udah deh, lanjut terus ya ceritanya..” sanggah Tia tiba-tiba. Kami hanya mengangguk. “…si Jessy ini sayang banget sama si Ryan . Jadi, apapun yang diminta sama Ryan itu pokoknya di turutin semua. “Sepertinya anak yang bernama Ryan ini memanfaatkan harta kekayaan Jessy”kayak gitu di bilang di Koran” jelas Tia sambil menarik nafas kemudian menghembuskannya kembali.
“Ya ampun, kok tega banget ya si Ryan-Ryan itu..”sahut Fafa. Tia hanya menggeleng sambil mengangkat bahu.
“Udah..udah lanjutin lagi ceritanya..!”sahutku penasaran dengan apa yang terjadi.
“Well, pada suatu hari, si Ryan ini ngajak Jessy ke villa a.k.a rumah hantu yang kita pergi itu, terus dengan mudahnya Jessy menyetujui ajakan Ryan. Ryan seperti merencanakan sesuatu yang jahat gitu..”
“Emangnya apa rencananya kak?” tanya Tina. Tiba-tiba, Tia seperti melihat kearah lain, maksudnya tatapan dia itu ngeliatnya bukan kearah kami tapi Tia seperti melihat ke samping tubuh Fafa.
Kami bertiga, aku, Tina, dan Fafa berhadapan dengan Tia. Sementara Tia duduk sendiri di depan kami.
“Kak..? Ada apa kak?”tanya Tina gemetaran.
“It..it..itu..itu RYANN..!!!”Tia sudah ketakutan sendiri dan segera berlari menjauh. Apa benar yang diucapkan Tia? Kayaknya gak mungkin deh ada Ryan disini, aku mencoba untuk berbalik ke belakang.
Tangan Tina sudah berkeringat, aku bisa merasakannya karena dia memegang tanganku. Dan aku yakin, tangan Fafa berkeringat juga. Aku sudah mengambil ancang-ancang untuk melihat ke belakang, dan..



Satuuu………






Duaaa……






Tigaaaa……




Aku melihat kebelakang dannn……..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar