Praanngg....!!!!
Suara apa itu?Aneh,sudah pukul satu pagi,kenapa
masih belum tidur,ya? batinku dalam hati. Aku pun segera menyelimuti
seluruh tubuhku dengan selimut. Aku pun segera membaca doa dan menutup mataku.
Keesokan paginya, aku menyapa anak-anak yang-sepertinya seumuran
denganku-sedang bermain.
“Hai…!”aku
mulai menyapa mereka.
“Hai
juga..Kamu baru pindah rumah,ya?”Tanya salah satu dari mereka. Aku mengangguk.
“Oh..iya,nama
kamu siapa?”aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Aku Tia,ini kembaranku
Tina,dan ini Fafa teman kami. Nama kamu,siapa?”Tia memperkenalkan saudara
kembarnya dan temannya,juga kembali bertanya padaku.
“Kalau nama aku,Sasa”,
“Oh ya,tadi malam aku
mendengar suara piring pecah di sebelah rumahku. Memangnya pemiliknya belum
tidur,ya?”aku menceritakan kejadian tadi malam yang kualami.
“Pemilik? Rumah itu aja
kosong..”jawab Tina. Aku terkejut,
“Tapi,tadi malam aku
mendengar suara piring yang jatuh..”.
“Memang setiap jam satu
malam, siapa saja yang melewati rumah itu, mendengar suara piring pecah”.
“Teman-teman, gimana kalau kita bersama-sama
menyelidiki rumah kosong alias rumah berhantu itu?”aku mengusulkan.
“Mmm..boleh. Tapi
kapan?”jawab Tia yang mewakili Fafa dan Tina. “
Besok. Jam enam? Bisa
nggak?”jawabku. Mereka bertiga mengangguk.
Tiba-tiba..,
“Sasa…! Ayo siap-siap, kita mau pergi ke rumah tante Tika!”mama memanggilku.
“Teman-teman,
aku pulang duluan, ya. Soalnya, aku mau pergi ke rumah tanteku. Tidak apa, kan?”aku
berpamitan dengan mereka bertiga.
“Ya.
Udah cepat, nanti kamu ketinggalan!”sahut Tia. Aku melambaikan tanganku pada
ketiga temanku sambil berlari. Mereka juga melambaikan tangan ke arahku. Saat
hampir sampai di rumah, aku melewati rumah kosong itu.
Aku melihat seperti ada
bayangan seorang anak perempuan berambut panjang yang tersenyum sambil
melambaikan tangannya padaku, dan sepertinya di tangan anak itu ada boneka yang
sudah sangat usang dan matanya berkedip. Aku yang tadi sedang berlari, menghentikan
lariku. Tapi saat aku berhenti, keduanya menghilang.
Ini sangat mengerikan, aku berbisik dalam hati. Aku pun mulai
berlari kembali ke rumahku. Untung saja, rumahku tidak jauh dari rumah kosong
itu. Tapi, tadi itu sangat mengerikan. Jika ada ghost buster di komplek
perumahan ini, dan mereka tidak pernah melayani rumah seperti rumah kosong yang
paling mengerikan tersebut, bisa-bisa saja mereka angkat tangan. Ghost buster saja tidak bisa, apalagi
aku – seorang anak kecil yang tidak bisa apa-apa. Tapi, kami tetap akan terus berusaha
melanjuti penelitian terhadap ‘Rumah Berhantu’ itu.
Keesokan
sorenya, aku menyiapkan barang-barang yang akan diperlukan, seperti: senter,bawang
putih (yang katanya bisa mengusir hantu), korek api(kalau senternya mati), dll.
Setelah itu, aku keluar rumah. Ternyata mereka bertiga sudah berada di depan
rumahku.
“Sorry
ya, aku telat…”aku meminta maaf pada mereka. Mereka mengangguk. Kemudian, kami
berjalan menuju rumah tersebut. Pelan-pelan, aku membuka pagar rumah itu yang
sudah sangat tua, sehingga menimbulkan bunyi. Baru saja di terasnya,sudah
mengerikan,apalagi saat masuk ke dalam ruangannya. Dengan tekad yang bulat, Tia,
yang paling tua diantara kami membuka pintu rumah itu. Kami pun melewati pintu
dan aku melihat ada sebuah peti berwarna putih. Apa jangan-jangan itu peti Drakula,
seperti yang ada di film-film?
Aku
ketakutan dan berlari menuju pintu. Tapi, tiba-tiba pintu itu tertutup sendiri.
Sepertinya, ‘hantu’ yang berada dirumah itu tidak mengizinkan kami untuk
kembali. Tidak ada jalan lain, selain mengelilingi rumah tua itu sambil mencari
jalan keluar.
Kami
menuju keatas dengan menggunakan tangga. Di lantai dua itu terdapat banyak
kamar yang bernomor, seperti:6, 16, 26, 36, dan seterusnya. Aneh sekali, semua
kamar itu berkaitan dengan nomor 6. Apa yang tersimpan di balik angka 6 itu,
ya?
Kami
pun terus berjalan dan tidak menghiraukan nomor-nomor kamar itu. Semua pintu
kamar itu terbuka, tapi, ada satu kamar yang tertutup, yaitu kamar nomor 16.
Kami tidak menghiraukannya. Kami mencari jalan keluar di kamar-kamar yang pintunya
terbuka. Tapi, nihil. Tidak ada jalan keluar. Terpaksa, kami harus memasuki
kamar bernomor 16 itu. Siapa tau, ada jalan keluarnya.
“Ayo..cepat
buka!”suruh Tia pada Tina.
“Ih..,nggak
mau.., takuut…!!!”Tina menolak suruhan kakaknya itu.
“Ya
sudah, jangan berantam lagi. Biar aku aja yang buka..”sahut Fafa berani.
Cklik…!!! Kriitt!!!
Suara
pintu yang dibuka membuat suara bising.
Kamar
itu berwarna putih, dinding dan lantainya sangat kotor. Tidak seperti kamar
yang lain, lumayan agak bersih. Di kamar itu, dindingnya ada bekas pijakan kaki
dan lantainya berdebu juga berserakan kertas dimana-mana. Aku melihat-lihat
semua isi kertas itu. Ada selembar foto yang bergambar anak perempuan yang
kulihat kemarin. Hah..!Anak perempuan
itu.. Aku terkejut melihatnya. Aku membaca di bagian bawahnya. Tertulis: In Memoriam Bunga Cantika Fitri. Aku
melihat bagian belakang foto itu, ada tulisan yang isinya:
“Kenapa
Bunga harus meninggal? Seharusnya aku bisa menahan rasa hausku.. Memangnya, apa
sih,salah dia? Kenapa ini harus terjadi pada sahabatku? Akan selalu kuingat kejadian
ini. Pada tanggal 16 bulan 6 tahun 2006
dan jam 16.00 WIB. Pada saat itu, kami
sedang jalan-jalan santai pada hari minggu. Dan aku merasa agak haus, jadi, aku
meminta dia menemaniku membeli air. Sewaktu hendak menyeberang jalan, Bunga
lupa mengambil sesuatu. Jadi, dia bilang dia akan menyusulku nanti. Yasudah, aku
menyeberang sambil melambaikan tangannya padaku. Tapi, Bunga meyuruhku untuk
segera berlari. Aku yang kebingungan tidak tau apa-apa.
Tiba-tiba
dia berlari kearahku. Dia menolak tubuhku, sehingga dia yang tertabrak. Aku pun
segera mencari pertolongan. Aku membawa Bunga ke rumah sakit terdekat. Setelah
beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruangan operasi. Dokter berkata bahwa
Bunga sudah kehabisan banyak darah. Dia pun tidak terselamatkan”. By:Bunga’s best friend, Intan Yolanda.
Aku
memberi tahu teman-teman, yang pada saat itu sedang melihat-lihat lembaran
kertas. Mereka membacanya. Aku melihat ke sekeliling, disitu terdapat sebuah
jendela yang kira-kira badan kami muat untuk melewatinya. Aku memberitahu
mereka bertiga. Mereka terlihat girang sekali karena sudah dapat jalan keluar
dari rumah itu. Kami pun keluar satu per satu. Sepertinya, sekarang sudah jam
18.30. Kami pulang ke rumah masing-masing. Akhirnya terbongkar sudah misteri
rumah itu. Ternyata itu bukan rumah, tetapi, sebuah villa yang sudah lama
sekali ditutup.
Kami
tau itu dari Tia. Saat aku sedang membaca surat dari teman Bunga tadi, Tia
sempat melihat koran yang berisi tentang “Villa Nusa”. Di ceritakan di berita
tersebut bahwa, sebelum kejadian Bunga tersebut ada lagi kejadian yang lebih
mengerikan lagi. Kejadian itu adalah,…
~BERSAMBUNG~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar