Kamis, 20 Juni 2013

Zayn Horror Story (ZHS)


Zayn Horror Story (ZHS)

I wish, you enjoy it :)

Srek..srek..Bunyi pohon itu membuat ku tambah takut. Aduh, apa yang harus kulakukan? Aku tidak berani sendiri di rumah ini. Kalau saja aku tadi tidak menyuruh kakakku pergi, pasti dia masih berada disini.

Oh hai teman, perkenalkan namaku Lily Tomlinson. Aku sekarang berumur 19 tahun. Aku ini seorang directioner, ya walaupun kakakku salah satu member dari One Direction. Yap, tepat sekali nama dia, Louis Tomlinson.

Ya seperti yang kalian ketahui, aku sangat ketakutan, dengan angin malam yang bertiup kencang, listrik yang padam, dan hujan turun secara bersamaan. Ah, kenapa coba aku tadi menyuruh kakakku pergi? desahku dalam hati.

Kring..kring..Tiba-tiba, ada bunyi telepon. Itu telepon rumahku. Aku tidak berani keluar dari kamar. Kring..kring.. Bunyi itu terdengar lagi, malah semakin keras. Badanku bergetar saking ketakutannya. Aduh, seseorang tolong aku..bisikku dalam hati.

Tiba-tiba, pintu rumahku terbuka dengan sendirinya. DEBAM..!! Pintu itu tertutup lagi. Damn, siapa itu? Aku tidak tahu harus bersembunyi dimana. Kring..Kri.. What? Bunyi telepon itu berhenti, sepertinya ada yang mengangkatnya. Pasti itu kak Lou. Tapi, aku masih tidak berani keluar. Dengan segera, aku mengambil iPhone ku, dan aku pun menelepon kak Lou.

"Iya, kenapa Lily?"tanyanya
"Kak, kakak udah pulang kan? Aku di dalam kamar nih, aku ketakutan kak,"ucapku cepat.
"What? Aku masih di studio nih. Emangnya kenapa?"jawab kak Lou. Aku terkejut.
"Ja..jadi..siapa yang..buka pintu tadi? Siapa yang..jawab..telepon tadi..??"bicara ku sudah tidak jelas lagi. Aku sudah sangat ketakutan, "Apa..ja..jangan..jangan. itu..h.."ucapku terbata-bata.
"Lah, emangnya ada yang telepon ya dik? Teet..teet.." tiba-tiba teleponku dengan kak Lou terputus.

Krieett..Itu bunyi pintu kamarku. Aku langsung berlari di samping lemari, dan menghadap ke dinding sambil menutup wajahku. Tiba-tiba, ada tangan seseorang yang sangat dingin dan sepertinya basah memegang tanganku. Aduh, siapa ini? Bibirku sudah sangat pucat, badanku mengeluarkan keringat dingin.

"Baa..."tangan tersebut membuka tanganku yang tadinya menutupi wajahku. Aku sangat terkejut, rupanya itu Zayn !
"Uhh..aku kira siapa.."ucapku
"Haha..Kami merencanakan ini semua, kakakmu, aku, Liam, Niall, dan Harry.
"Ya..bagus sekali. Sepertinya rencana kalian berhasil membuatku berkeringat dingin,"ucapku kesal
"Hehe..jangan marah dong.."sahut Zayn. Aku hanya mengangguk.
"Jadi, ngapain kamu kesini, Zayn?"tanyaku berbasa-basi, "..ngomongnya di ruang tamu aja yuk!"ajakku sambil menarik tangan Zayn.

"Yah..,aku kesini disuruh dengan Louis, dia bilang dia tidak bisa pulang malam ini. Soalnya, dia harus menyelesaikan syutingnya."jelas Zayn
"Oh, jadi kamu kok gak ikutan syuting juga, Zayn?"tanyaku kembali.
"Aku mah, udah siap. Yang paling sedikit adegannya cuma aku. Yang lain sampai puluhan lembaran pokoknya, kalau aku cuma sepuluh. Itupun, aku sudah hafal,"jawab Zayn. Aku ber-oh ria.

JEDARRR..!!! Suara petir itu mengangetkanku. Tidak sengaja aku memeluk Zayn sambil menutup mata. Zayn pun sepertinya kembali memelukku. Tidak lama kemudian, aku melepaskan pelukanku, Zayn juga.

"Mmm..maaf Zayn, tadi aku memelukmu.."ucapku merasa bersalah, "..Soalnya aku sangat ketakutan.." sambungku lagi.
"Yeah..never mind"jawabnya sambil tersenyum, aku kembali tersenyum padanya.

Tiba-tiba, berdentanglah lagu Für Elise yang piano versionnya. Aku membelalakkan mataku. Zayn juga begitu. Setau ku, di rumahku ini tidak mempunyai piano. Ah, mungkin mereka mengerjaiku lagi. Kemudian aku bertanya pada Zayn, "Zayn..,sudah cukup permainan ini. Ini sangat tidak lucu.."

"Apa? permainan?"tanya Zayn keheranan. Aku mengangguk.
"Ini bukan permainan, Lily. Kami tidak merencanakan ini. Bahkan, kami saja tidak tahu bagaimana cara memainkan lagu Für Elise ini.."sahutnya.
"Jadi..siapa juga..yang memainkan piano ini? Di rumah ini tidak ada piano setahuku.."jelasku sambil ketakutan pada Zayn.

Zayn menggeleng. Ini benar-benar menyeramkan!Tiba-tiba Zayn berdiri dan berkata, "Lil, coba deh aku lihat dulu ya.."sahut Zayn.
"Eh..iya..hati-hati ya Zayn.."sahutku, ya walaupun sebenarnya aku tidak berani tinggal sendiri. Zayn pun mulai berjalan kearah sumber bunyi Für Elise tersebut. Dengan senter tentunya.

Aku, dengan ditemani hawa dingin yang menusuk tubuhku ini, membuat tubuhku berkeringat dingin dan merasa was-was. Aku melihat ke kanan dan ke kiri. Kemudian, aku menghadap ke depan lagi. Tapi, tunggu ! Tadi aku seperti melihat sesosok perempuan dengan rambut panjang berbaju putih.

Dan ditangannya itu terdapat boneka yang sedang tersenyum. Oh..My.. Aku mencoba untuk tidak menghiraukannya. Aku pun mengambil iPhone-ku dan segera menyalakan lagu 1D yang judulnya One Way Or Another. Tiba-tiba, dari kejauhan, terlihatlah sesosok badan yang tegap, yang membawa senter dan mengarahkan ke tempatku. Oh, itu pasti Zayn. Aku pun mematikan lagu-nya.

Dia semakin mendekatiku, ya itu Zayn! Aku senang dia telah kembali dan tidak terjadi apa-apa dengan dia. Tapi, tatapan Zayn aneh. Dia seperti melotot. Oh no, apa jangan-jangan Zayn kerasukan ya? Positif thinking Lily, positif thinking! Ucapku menyemangati diri sendiri.

Oh tidak, mata Zayn semakin mengerikan dan dia berjalan dengan cepat ke arahku. Ada apa ini? Aku bertanya pada diriku sendiri. Apa yang harus kubuat? Aku membulatkan tekadku untuk berlari keluar dari rumah mengerikan ini. Aku berlari menuju pintu, sambil sekali-kali melihat ke belakang. Zayn semakin mendekat. Ah, itu dia hampir sampai.
Krek..Krek..Aku mencoba membuka pintunya. Tapi sepertinya dikunci. Aku melihat kebelakang, sekarang aku ketakutan. Huh..jangan takut Lily..aku menenangkan diriku sendiri. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi dan aku hanya duduk di samping pintu itu.
Zayn semakin mendekatiku. Aku tidak berani melihat matanya yang besar itu, jadi, aku menutup wajahku dengan tanganku. Di sela-sela jariku, kulihatlah, Zayn sudah ada di depanku. Apa yang akan dia buat? Pasti, dia akan mencekikku. Aku hanya pasrah saja kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apapun yang terjadi, berarti inilah takdirku.

Tiba-tiba, lampu seketika hidup. Bunyi terompet dimana-mana, aku bingung.
"Happy Birthday adikku sayang.."ucap kak Lou
"Aaaappp...."aku masih tidak dapat berkata-kata
"Kenapa, Lil? Aktingku keren kan? Siapa dulu dong..gue gitu loh.."sahut Zayn
"Ih..kalian inii.."aku pura-pura ngambek kepada mereka. Ya ampun, ternyata kak Lou, Zayn, Liam, Niall, dan Harry memberikan kejutan untukku. Ya, hari ini adalah hari ulang tahunku. Bahkan, aku sendiri tidak ingat.

"Happy Birthday ya.."sahut Liam
"Happy Birthday ya.."ucap Niall
"Happy Birthday ya.."kata Harry
"Happy Birthday ya, sorry tadi aku buat kamu ketakutan"ucap Zayn sambil nyengir.
"Haha..Thanks ya semuanya, atas kejutan kalian"jawabku kepada semua anggota One Direction.

"Mmm..ohya, aku mau tanya sesuatu nih.."sahutku
"Emangnya apa?"tanya Harry
"Iya, apaan sih? Jangan buat orang penasaran dong.."ucap Liam dan Niall
"Yang cewek tadi itu siapa, sih?"tanyaku. Muka mereka keheranan. "Cewek itu muncul pas Zayn lagi kebelakang buat ngecek. Dan dia juga bawa boneka yang sedang tersenyum.."sambungku lagi. Muka mereka tambah keheranan.
"Perasaan, cuma kami-kami aja tuh yang ngerjain kamu. Gak ada yang lain, apalagi perempuan.."sungut Zayn. Aku mulai melihat mereka dengan aneh seolah-olah aku mengatakan, "Yang betul?"
"Iya betul kok kata Zayn. Gak ada anak perempuan yang ikutan ngerjain kamu.."sambung Niall.
"Apa mungkin jangan-jangan..."kata Harry ketakutan.
"Jangan-jangan apa, Harry?"tanyaku sambil membelalakkan mataku.
"jangan-jangan itu hantu..??"jawab Harry.
"Gak..,gak mungkin.."sahutku lagi.

Tiba-tiba, berdentinglah piano memainkan lagu Für Elise.
"Emm..guys..aku mau tanya, yang tadi mainin lagu Für Elise, siapa?"tanyaku ketakutan. Semuanya menunjuk ke arah Liam. Liam pun nyengir.
"Lah, itu siapa yang mainin yaa?"tanyaku ketakutan. Kami saling pandang, dan LARIIIII....

---------------------------------------TAMAT-------------------------------------

Senin, 17 Juni 2013

My Story

-Different-

  Huh, akhirnya aku pulang juga dari "the bored world". Aku kira, dengan pulangnya aku ke rumah, duniaku akan lebih aman dan faktanya tidak!Aku tidak tahu apakah tetanggaku itu terganggu atau tidak, tapi, kalau saja aku menjadi mereka, itu sangat menganggu. Rasanya ingin sekali aku pergi dari sini dan menjalani kehidupan yang baru.

SKIP

  Seperti pagi kemarin lagi,
  "Aduh, udah telat nih pasti"sanggahku. Tapi, dimana Anny, Siska, Elya, dan Caroline?
  "Hei !"sapa seseorang.
  "Oh..hei juga"balasku seraya tersenyum. Dan WOW ! Kejadian kemarin terulang lagi, kataku dalam hati.
  "Udah buat pr matematika?"tanyanya.
  "Udah, kalau kamu?"tanyaku lagi seraya menjawab pertanyaannya.
  "Udah juga"ucapnya.
  "Ohyaya " kataku sambil tersenyum. Perasaan nervous pertama yang aku alami padanya. Dia kembali berjalan ke belakang. Lah, kemana tiga orang lagi? ah..untuk apa aku memikirkan mereka, batinku dalam hati.

  Tak lama kemudian, aku mengambil buku pelajaran. Tiba-tiba, terlihatlah wajah tampannya. Aku bingung.
  "Mm..bukannya, Alex yang duduk disini?"tanyaku padanya.
  "Yah itu kerin. Mulai dari sekarang sampai uijan kenaikan kelas nanti, aku bakalan duduk disini"sahutnya. Aku pun ber-oh padanya. Aku kembali melihat ke depan. Coba bayangkan, seorang anak lelaki yang dikejar-kejar oleh anak perempuan di sekolah ini, duduk tepat di belakang kursiku.

  "Ehm..!!" aku melihat asal suara itu. Rupanya, suara itu berasal dari pintu masuk kelas. Itu Siska, Caroline, Elya, dan Anny. Mereka melihatku dengan memakai ujung mata. Kenapa ini? Apa yang terjadi? Aku bingung pada diriku sendiri.

  Ups, aku lupa bahwa salah satu diantara mereka ada yang suka dengan Justin. Dan sepertinya tadi mereka melihatku yang sedang berbicara dengan Justin. Oh tidak ! Tamatlah riwayatku. Jangan sampai masalah ini menjadi lebih besar lagi. Aku tidak ingin menambah masalah lagi.

SKIP

  Pada saat istirahat, Justin mengajakku lagi. Oh tidak, ini akan memperburuk keadaan. Aku menolak ajakannya.
  "Gak apa-apa. Ayoo..!"ajaknya, "..Sama aku aja jajannya, kalau kamu enggak ada teman.."sambungnya lagi. Aduh, Justin please jangan kayak gini! teriakku dalam hati. Mereka sudah melihatku sambil berbisik-bisik.

  Huh, ini semua akan menjadi kacau! Tiba-tiba, badanku terasa seperti ditarik. Justin menarik tanganku!
  "Justin, ya ampun, please jangan tarik-tarik tangan aku.."sahutku sambil menarik kembali tanganku, "..tau gak, gara-gara kamu narik-narik tangan aku, mereka udah ngeliat-liat aku.."sambungku lagi.

  "Nggak..tenagn aja kok, ada aku"ucapnya. Aku melihat dia dengan pandangan yang aneh. Sementara dia melihatku sambil tersenyum. Aduh Lily, jangan ge-er dulu. Mungkin ini cuma akal-akalan dia aja, jangan ge-er dulu Lily.. aku berkata dalam hati.

  Justin terlihat lengah, ini kesempatanku untuk lari darinya. Yes ! berhasil. Aku pun segera berlari ke kantin. Sambil berlari, aku pun berpikir. Tidak mungking, seorang Justin - penyanyi muda yang tampan dan sukses ini- suka padaku - orang yang pendiam dan tidak banyak ngomong-

Ah..,entahlah !

My Story

-Me, alone-

  Dengan berlari kencang, aku mengeluarkan semua tenagaku. Akhirnya, sampai juga di depan pintu kelasku.
Cklik..*krik..krik..* hening seketika. Entahlah apa yang terjadi dengan mereka.
  "Hai.." kusapa mereka. Satu menit kemudian, memang benar-benar tidak ada yang menjawab. Aku berjalan kebelakang mengambil meja dan kursi. Alhasil, aku duduk sendirian.
  "Lily..udah siap pr kesenian belum?"tanya Trina, salah satu temanku.
  "Udah nih, kalau mau liat ajaa.."sanggahku.
  "Ya ampun kamu baik banget. Makasih yaa "sahut Trina, aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

  Oh iya, aku lupa. Perkenalkan, namaku Lily Thompson, kata orang sih aku ini pendiam. Aku sudah tiga belas tahun hidup dan tinggal di dunia yang penuh dengan sandiwara ini. Aku bersekolah di Harrison High School, dan aku menjalani hari-hari yang sangat membosankan di kelasku, 8-1.
  "Lily, sekali lagi, makasih ya " sahut Trina. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Kelas masih tidak lengkap, karena anak-anak lelaki sedang berada diluar kelas.
  "Mm.., Trina, tadi udah bel masuk belum?"tanyaku pada Trina.
  "Udah lil " jawabnya. Aku heran, bel sudah berdering tapi, guru belum masuk. Aku tidak menghiraukannya.  

  Lalu, aku mengambil buku pr matematika. Orang yang berada di depanku ini, berbicara berbisik-bisik dan sama sekali tidak menganggapku, layaknya seperti debu yang beterbangan. What is my false? teriakku didalam hati. Yasudahlah, biarkanlah mereka menjauhiku. Lagipula, mungkin dengan cara ini aku bisa lebih serius lagi untuk belajar.

  Tiba-tiba, kepala sekolah masuk ke kelas kami.
  "Nak, ini kan kelas 8-1, sebelumnya berada diatas ya?"sanggahnya. Kami mengangguk.
  "Yang anak laki-laki nya mana?"tanya Mr. Charles. Kami menunjuk keluar.
  "Ayo nak, masuk semua!"sahut Mr. Charles. Otomatis, mereka semua pun masuk ke dalam kelas. Karena ini kelas baru, jadi mereka tidak tahu harus duduk dimana. Jadi, mereka semua duduk dibelakang.
  "Hei..! Itu kenapa tidak duduk di belakang dia? " Mr. Charles menunjuk ke arahku. Seketika ribut, 4 orang yang aku tidak tahu siapa duduk di belakangku, 2 orang duduk di barisan tengah, dan 6 orang lagi duduk di barisan paling ujung.

   Aku pun melihat ke belakang. Huh.., kenapa mesti mereka sih, anak-anak nakal itu yang harus duduk di belakangku ? Tapi, aku melihat ada bangku di barisan tengah yang paling depan masih kosong. Apakah aku harus..oh tidak-tidak, aku tidak berani duduk paling depan. Yah, walaupun pada hari jumat nanti salah satu teman baikku datang.

  Akhirnya Mr. Charles pun keluar dari kelas kami. Aku pun mengambil buku yang ada di tasku. Dan yang pasti, terliahatlah muka-muka orang nakal tersebut. Kuperhatikan mereka satu-satu. Alex, Gino, Michel, dan .. Justin? Kok, bisa ada Justin disitu? Aku kira, Justin duduk di barisan yang paling ujung. Aku pun berbalik kembali. Ah, untuk apa aku memikirkan mereka, dasar kurang kerjaan !! aku mengeluh pada diriku sendiri.

  Dengan terburu-buru, Mr. Brian, guru matematika kelas kami, memasuki kelas.
  "Maaf anak-anak, saya terlambat.."dia melirik pada kam tangannya, "..lima menit.."sambungnya lagi.
  "Sekarang coba catat soal di papan, yang akan saya tulis sekarang! Dan tugas ini langsung di kerjakan ya!"perintahnya.
  Aku cepat-cepat mengambil buku tulisku dan langsung mengerjakannya.
  "Mm..Lily..Lily..disuruh ngapain sih?"ada seseorang yang memanggilku, aku pun melihat ke belakang, "..disuruh ngapain sih?"tanya salah satu dari mereka, Alex. Aku langsung menunjuk ke papan.
  "Ohya..makasih ya"sahutnya. Aku mengangguk. Aku pun langsung mengerjakan soal yang ada di papan.

  "Trina..,ini gimana rumusnya?"tanyaku pada Trina.
  "Oh kalau ini, 7 cm dikali dengan 9 cm , bla..bla..bla.."jelasnya.

 TEETT..! TEETT..!
  Bel istirahat pun berbunyi. Semua orang termasuk kelompok anak-anak nakal itu keluar dengan semangatnya. Tunggu dulu..masih ada tersisa satu orang lagi. Dan tiba-tiba dia menghampiriku.
  "Kamu enggak jajan?"tanyanya.
  "Iya aku jajan. Tapi, sebentar lagi soalnya mau beresin buku dulu nih.."jawabku dengan santai saja.
  "Ohyaya, aku duluan ya " sahutnya. Aku mengangguk sambil terseyum kepadanya. Tumben ya, dia nyapa aku.

  Seseorang yang tenar, yang diimpikan para cewek-cewek, menyapaku, yang tidak terkenal baik dibidang kecantikan maupun pengetahuan. Wow.. Segera aku mengambil uangku dan langsung keluar dari kelas. Pada saat sedang perjalanan ke kantin, aku bertemu kembali dengan Justin. Seperti biasa, Justin dan kelompok nakal itu. Aku tidak memedulikan keberadaan mereka. Aku melewati mereka sambil menunduk. Aku tidak berani melihat mereka satu-persatu.

  Tiba-tiba, ada yang memanggilku. Aku tau itu suara siapa. Aku pun melihat ke arahnya.
  "Kok sendiri ? Biasanya kan kalian rame-rame ?"tanyanya heran. Ini kenapa sih, kok nanya mulu daritadi ? batinku dalam hati.
  "Kalian marahan ya?"tanya si kepo satu ini. Aku hanya menggeleng dan tersenyum, ya walaupun terpaksa.

SKIP

  Di kelas, aku tidak biasa mengalami keadaan seperti ini; diam, sunyi, senyap, dan datar. Aku memakan jajan yang kubeli tadi sambil memikirkan, kenapa mereka begitu terhadapku. Tapi, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku bisa meraih cita-citaku walaupun dengan keadaan dijauhkan begini. Dan juga, aku berharap bisa masuk 10 besar saat ujian kenaikan kelas nanti.